Senin, 10 November 2008

Refleksi Tahun Baru 2008 M dan 1429

oleh : Zaenal Arifin, 2008
Awal Januari yang lalu kita memperingati tahun baru 2008 masehi dan beberapa hari kemudian kita peringati tahun baru 1429 Hijriyah. Dua sejarah besar peradaban manusia dari generasi kenabian Isa AS dan Muhammad SAW. Momentum yang jarang terjadi ini diwarnai dengan banyak bencana yang melanda negeri kita Indonesia, terutama banjir dan tanah longsor di berbagai daerah. Banyak saudara kita yang kehilangan harta benda, kehilangan sanak saudara dan bahkan nyawa. Banyak saudara kita yang kelaparan, dan tertimpa penyakit. Belum selesai musibah yang satu secara tiba-tiba datang musibah yang lain. Hal ini seharusnya membuat kita lebih sabar dan prihatin, Allah SWT berfirman : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S:Al Baqarah A:155)”, namun sebaliknya.
Pada malam tahun baru 2008 masehi di berbagai daerah mulai pelosok hingga kota-kota besar. Dari tayangan televisi dapat kita saksikan terutama di kota-kota metropolitan tahun baru dirayakan dengan wah, pesta yang meriah. Banyak orang berbondong-bondong menuju alun-alun kota sambil meniup terompet saling bersahutan. Kendaraan bermotor menderu sekeras mungkin berputar-berputar di jalanan. Dentuman suara musik hingar-bingar hingga pergantian tahun. Beberapa buah, kilo atau bahkan kwintal dan ton kembang api dinyalakan. Beberapa juta, milyar atau bahkan trilyun rupiah dihabiskan dalam satu malam.
Kalau boleh dikatakan terlalu berlebihan peringatan pergantian tahun baru masehi tersebut, padahal tahun masehi yang “ identik ” dengan Nabi Isa AS seharusnya mengilhami sifat – sifat “ kemanusiaan “ yang dicontohkan beliau, diantaranya suka menolong. Firman Allah SWT : “. . . dan (ingatlah) di waktu kamu (Isa AS) menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, . . . Q.S: Al Maaidah A:110 ”. Menilik dari hal tersebut sepatutnya uang yang dihabiskan pada malam tahun baru masehi 2008 alangkah sangat mulia apabila diberikan kepada saudara-saudara kita yang terkena musibah, sehingga lebih bermakna dari pada sekadar euforia belaka.
Tahun hijriyah identik dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat (muhajirin) dari Kota Mekah menuju Kota Madinah. Para muhajirin merupakan kalau boleh dikatakan kaum “tertindas” di tempat asalnya (Mekah) oleh Kaum Quraish penguasa pada saat itu. Penduduk Kota Madinah biasa disebut kaum penolong (anshor) yang sebenarnya orang lain (hanya sebagain kecil saudara seagama) menerima , menyediakan tempat dan makanan untuk mereka. Kota Madinah yang sebelumnya adalah kota kecil bernama Yastrib berangsur-angsur menjadi kota “metropolitan” yang baldatun, thoyyibatun warobbun ghofur berkat kekompokan orang-orang yang teraniaya (muhajirin) dengan para penolongnya (kaum anshor).
Sebenarnya bencana yang melanda kita saat ini adalah buah dari ulah tangan kita sendiri. Memang kalau kita bicara taqdir, hal tersebut jelas merupakan taqdir Allah SWT, namun taqdir ada yang mubram dan ada yang mu’alaq, artinya ada yang menjadi hak mutlak Allah SWT dan ada yang Allah SWT memberi kesempatan kepada kita untuk berproses di dalamnya, sehingga pada akhirya taqdir yang terjadi merupakan musabab dari sebab yang kita lakukan. “ . . . Sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu (berusaha) merubah nasibnya sendiri . . . .”.
Secara ilmiah penyebab banjir salah satunya adalah curah hujan yang tinggi tidak dapat diserap oleh bumi hal ini akan menyebabkan longsor apabila tanah tidak diperkuat oleh akar-akar tumbuhan. Banyaknya Karbon Dioksida (CO2) yang dihasilkan dari hasil pembakaran di muka bumi ini juga memicu perubahan iklim yang tiada menentu. Hal ini terjadi salah satunya karena penebangan hutan yang meraja lela tanpa diimbangi dengan penanaman kembali akhirnya timbul Global Warming. Pemanasan global sangat meresahkan penduduk di bumi ini, sehingga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berinisiatif mengadakan agenda khusus terkait permasalahan tersebut.
Pun demikian kerusakan dilautan oleh akibat ulah tangan manusia sendiri. Explorasi hasil laut yang berlebihan, pengeboran minyak lepas pantai dan sebagainya. Karenanya sudah sepantasnya bencana ini harus kita hadapi sesuai dengan firman Allah SWT: “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).Q.S:Ar Ruum A:41 ”
Melalui momen tahun baru masehi dan hijriyah kita jadikan tonggak penyemangat untuk kembali ke jalan yang benar. Artinya tidak lagi mengadakan kerusakan di muka bumi dan berangsur – angsur memperbaiki keadaan yang ada, baik secara fisik maupun nonfisik. Dengan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT agar rahmat Allah dilimpahkan kepada kita. Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf Ayat 56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”. Semoga tahun ini diwarnai dengan perubahan sikap Bangsa Indonesia khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya menjadi lebih baik sehingga janji Tuhan dapat segera terwujud,amin.

Tidak ada komentar: